Kamis, 13 April 2023

TerminalVoltase Sensor

 


Sensor mengkonversikan berbagai informasi menjadi perubahan tegangan yang dapat dideteksi oleh ECU mesin. Ada banyak tipe sinyal sensor, tetapi ada lima tipe metode utama untuk mengkonversikan informasi menjadi tegangan. Dengan memahami karakteristik tipe-tipe ini, kita dapat menentukan selama pengukuran apakah tegangan terminal benar atau tidak.

1.Menggunakan tegangan VC (VTA, PIM)
Tegangan konstan 5 V (tegangan 5 V) untuk mengoperasikan mikroprosesor diciptakan didalam ECU mesin oleh tegangan batere. Tegangan konstan ini, yang disuplai sebagai sumber daya sensor, adalah tegangan terminal VC.
Pada sensor tipe ini, tegangan (5 V) diberikan di antara erminal-terminal VC dan E2 dari rangkaian tegangan konstan pada ECU mesin sebagaimana terlihat pada gambar. Kemudian, sensor ini menggantikan bukaan katup throttle yang terdeteksi atau tegangan intake manifold untkl [erubahan tegangan antara 0 dan 5 V agar dapat meng-output.
SERVICE HINT:
Apabila rangkaian tegangan konstan rusak atau terjadi arus pendek pada rangkaian VC, suplai daya ke mikroprosesor akan diputus, menyebabkan ECU mesin berhenti berfungsi dan mesin berhenti.

2.Menggunakan termistor (THW, THA)
Nilai resistansi termistor berubah sesuai dengan suhu. Karenanya, termistor digunakan pada alat-alat seperti sensor suhu air dan sensor suhu intake udara, untuk mendeteksi perubahan suhu.
Sebagaimana tampak dalam gambar, tegangan disuplai ke termistor sensor dari rangkaian tegangan konstan (5 V) pada ECU mesin melalui resistor R. Properti termistor digunakan oleh ECU mesin untuk medeteksi suhuf dengan menggunakan perubahan tegangan pada titik A pada gambar.
Ketika termistor atau rangkaian wire harness terbuka, tegangan pada titik A menjadi 5 V, dan ketka terjadi arus pendek dari titik A ke sensor, tegnagan menjadi 0 V. Dan, ECU mesin akan mendeteksi kerusakan dengan menggunakan fungsi diagnosis.

3.Menggunakan tegangan ON/OFF
(1)Peralatan yang menggunakan switch (IDL, NSW)
Saat tegangan di-set ON dan OFF, sensor akan mendeteksi kondisi switch ON/OFF.
Tegangan 5 V diberikan ke switch oleh ECU mesin. Tegangan terminal ECU mesin adalah 5 V saat switch OFF, dan 0 V saat switch ON.
ECU mesin menggunakan perubahan pada tegangan ini untuk mendeteksi kondisi sensor.
Sebagai tambahan, beberapa peralatan menggunakan batere 12 V.
(2)Peralatan yang menggunakan transistor (IGF, SPD)
Ini adalah alat yang menggunakan switching transistor.Seperti pada alat yang lain diatas, perubahan ON dan OFF tegangan digunakan untuk mendeteksi kondisi kerja sensor.
Seperti alat yang menggunakan switch, tegangan 5 V diberikan ke sensor dari ECU mesin, dan ECU mesin menggunakan perubahan dalam tegangan terminal saat transistor ke ON atau OFF untuk mendeteksi kondisi sensor.
Sebagai tambahan, beberapa alat menggunakan tegangan 12 V.

4.Menggunakan power supply selain dari ECU mesin (STA, STP)
ECU mesin menentukan apakah sebuah alat bekerja dengan mendeteksi tegangan yang diberikan saat peralatan listrik yang lain sedang bekerja.
Gambar menunjukkan rangkaian lampu stop, dan ketika switch pada posisi ON, tegangan batere 12 V diberikan ke terminal ECU mesin, dan saat switch di posisi OFF, tegangan menjadi 12 V.



5.Menggunakan voltase yang dibangkitkan oleh sensor (G, NE, OX, KNK)
Karena sensor menghasilkan dan mengoutput daya sendiri, tegangan tidak perlu diberikan ke sensor.
ECU mesin menentukan kondisi kerja dengan tegangan dan frekuensi daya yang dihasilkan.
HINT:
Sewaktu memeriksa tegangan terminal ECU mesin, sinyal NE, sinyal KNK, dll.adalah output dalam bentuk gelombang AC. Oleh karena itu, pengukuran yang akurat dapat dilakukan dengan menggunakan oskiloskop.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Air Flow Meter Tipe Hot-wire

Konstruksi   Sebagaimana ditunjukkan dalam ilustrasi, konstruksi air flow meter tipe hot-wire...